Wajah penuh sandiwara
Dengan seringai penuh kepalsuan
Lidah yang tak pernah puas mengecap
Walau perut menjerit kepenuhan
Lisan yang tak kenal kasihan
Menebar racun pembunuh diri
Nalar sok intelek
Membunuh tekad dan semangat
Hati berselimut kepura-puraan
Mengalunkan orkestra kesantunan semu
Mata bersorot kemunafikan
Tak pernah kenyang menelusur kerendahan
Telinga yang rakus akan gunjingan
Tak peduli jadi tong sampah peradaban
Sang nurani seolah mati suri
Teracuni nikmat sari buah pelena
Yang disodorkan para penyemarak dunia
Atas perkenan sang nafsu
Yang takluk dalam genggaman kerakusannya
Sang budi seakan sekarat
Terbidik anak panah pengabaian
Yang menderas dari mulut manis para durjana
Karena lumpuhnya sang akal
Yang bertekuk lutut di telapak kepicikannya


